Selasa, 16 Desember 2008

Betul Khan

Iklan di koran, maka ratusan orang akan segera datang menghiba memohon untuk diterima menjadi pegawai. Padahal kebutuhan hanya 4 - 7 orang. Nah yang lebih heboh banyak yang daftar tanpa modal yang cukup. Modalnya hanya ijazah sarjana dengan IPK tiga koma. Seolah dengan itu cukup. Mereka lupa bahwa untuk menjadi guru lebih butuh kepribadian daripada sekedar ijazah sarjana. Malah saya merasa lebih nyaman dengan guru yang pendidikannya tak terlalu tinggi tapi punya kepribadian yang oke dan semangat untuk maju yang tinggi. SD bukanlah Perguruan Tinggi, kemampuan akademik perlu tapi tak harus dibuktikan dengan ijazah yang tinggi-tinggi. Toh tidak semua lulusan SMA, D1, D2, D3 selalu lebih bodoh dari lulusan S1 bahkan S2. di tengah euforia gelar akademik, maka selembar ijazah beserta nilai-nilainya harus dibuktikan di lapangan. Mau bukti? Saya punya teman yang Magister Pendidikan Islam, konsentrasi studinya manajemen lembaga pendidikan. Kalau menilik ijazahnya mestinya ia paling pas jadi kepala sekolah. Tapi ketika ditawari ia katakan tak mampulah. Toh yang lebih berhasil malah yang hanya berijazah S1. Ada lagi sarjana tarbiyah yang baca qur'annya kalah sama lulusan SD. Tak tahu ulumul hadits, ulumul qur'an apalagi bahasa arab. Hafalan Qur'annya tak nembus setengah juz. Duh sedihnya.
Itulah realitas, pendidikan kita terjebak formalitas. Saya tak ingin mengatakan bahwa formalitas tak penting, tapi ketika sudah terjebak berarti siap untuk terperosok ke jurang kegagalan dan sulit untuk keluar darinya.
Saya punya gagasan, bagaimana kalau lembaga pendidikan dikelola dengan kombinasi pendidikan formal, pendidikan non formal dan pendidikan informal. Bukankah sekarang pakai KTSP, artinya sebuah sekolah mempunyai keleluasaan untuk mengembangkan kurikulum dan metode serta metodologi pengelolaan pembelajarannya? Pendidikan formal punya keunggulan dalam hal keterukuran serta kestrukturannya. Pendidikan non formal lebih unggul dalam hal memenuhi kebutuhan pengetahuan seseorang serta biasanya lebih fokus. Pendidikan informal lebih unggul dalam hal membangun komunikasi sosial dan kemanusiaannya. Nah kalau ketiganya bisa digabung betapa dahsyatnya. Wacana ini sebetulnya sudah lama muncul dalam benak saya. Buku andreas Harefa : sekolah saja tidak cukup, buku Toto Chan dan banyak buku lainnya menginspirasi gagasan tersebut. Tapi cukup lama pula terpendam oleh rutinitas. Nah kini kuungkap kembali dengan harapan bersambut. paling tidak ada dokumen yang pernah saya tulis bahwa itu gagasan orisinilku. Walau mungkin banyak orang yang punya gagasan yang sama. Nah, siapa yang berani merintis jalan menuju pendidikan yang lebih bermakna?
Ya Allah, istiqomahkan langkah-langkah kami, walaupun langkah itu kecil-kecil, tapi bila istiqomah maka akan jauh pula jarak yang ditempuh. Amin.

Selasa, 09 Desember 2008

Tak mudah

Tetangga saya sudah berumur diatas 30 tahun, sampai hari ini belum juga menikah. Kalau ditanya jawabnya hampir senada dari waktu ke waktu : belum jodoh; artinya belum sesuai. Padahal sudah banyak yang mencoba mencarikan. Ada yang menawarkan temannya, ponakannya, saudaranya, muridnya, teman ngajinya, tetangganya dll. Tapi jawbannya hampir sama: belum sesuai.
Teman saya sudah lama non job. Sarjana dari PTN yang cukup bagus dengan indek prestasi lumayan. Cari kerja tak ketemu-ketemu. Pernah coba jualan tapi tak jalan karena tidak mau terlalu kotor (he he he), ikut MLM hanya menggebu-gebu di depan. Sampai sekarang masih berkutat dengan kebingungan. Saya jadi berfikir, mungkin ijazah sarjananya yang membuat ia tak segera dapat kerja. Mau buruh di pabrik; malu. mau jualan siomay : malu, mau jadi sales kelilingan: malu. Kuli bangunan : apalagi; mengerikan. Padahal tetangga saya yang hanya lulusan SMA lagipula sangat ndeso bisa juga sehari menghasilkan uang 30 - 60 ribu sehari dengan jualan bakso kojek. Mungkin itu tadi : belum cocok dengan pekerjaan. cocok dengan ijazahnya, cocok dengan tenaga yang dikeluarkan, cocok dengan status sosialnya, cocok dengan gajinya.
Yang ini lain lagi, Ahad kemarin ratusan ribu orang berebut pekerjaan yang tak terlalu bergengsi tapi menarik : PNS. Tak terlalu gengsi dibanding para buruh berdasi kelas manajer. Gaji tak terlalu besar (kecuali mau nyambi), lagipula karirnya sangat lambat. Menarik karena PNS adalah pekerjaan yang relatif tak banyak tantangan. Dengan jaminan tidak dipecat kalau tidak kebangeten maka para PNS bisa bekerja agak lebih santai daripada para buruh swastanan, dapat pensiun lagi, plus fasilitas yang kadang tak rasional untuk yang beruntung jadi pejabat. Tapi yang inipun menyisakan sebuah drama : lebih banyak yang tidak sesuai untuk masuk karena jumlahnya yang sangat terbatas. Nah.
Ini lebih dramatis lagi.
Sepeninggal beberapa punggawa, sekolahku butuh beberapa guru. Seolah mudah; iklan di koran, ratusan orang mendaftar, seleksi kemampuan dan kepribadian, wawancara, diterima, training, siap kerja. Mekanisme yang sudah berulang kali dilakukan. Apanya yang susah???? Hampir sama dengan jawaban tetangga saya : belum sesuai. Lebih tepatnya tidak mudah mencari guru yang sesuai dengan kebutuhan sekolah. Kalau ada yang sesuai orangnya kadang tak sesuai dengan gaji yang diminta. Kadang sesuai gaji yang diminta tapi tak sesuai orangnya. Kadang pula dua-duanya tak sesuai.
Tak mudah memamng mencari yang sesuai.
Akhirnya untuk yang kesekian kali aku harus berjibaku untuk mencari jodoh baru buat anak-anak didikku. Ternyata lebih sulit dari waktu aku mencari ibu buat anak-anakku.
Tak mudah memang, tapi bagaimanapun ini harus direalisasikan.

Jumat, 05 Desember 2008

Numpang lewat

Kurban menjelang.
banyak orang sudah siap dengan hewan kurbannya, entah membeli, entah memelihara sendiri.
Sebagian masih termangu-mangu mengupayakan sedikit tambahan uang untuk mencukupkan pembelian hewan kurban. Sebagian lain tak merasa harus peduli, apa sih maknanya kurban? Ada sebagian orang berpunya yang pura-pura tak punya karena mungkin punya tanggungan yang perlu dipertanyakan urgensinya. Punya mobil, rumah lebih dari satu, kendaraan untuk semua anaknya. Anak sekolah di sekolah mahal. tak mampulah dia untuk berkorban karena merasa utangnya banyak, padahal utang dibuat tanpa henti. Wah-wah. kalau sudah demikian apa bedanya dengan Qorun. Ia enggan membaya zakat dan sedekah karena merasa yang dimilikinya hasil keringatnya sendiri. Ia lupa bahwa jalan menuju sukses telah dibentangkan oleh sang pencipta. Ia lupa bahwa apapun dan berapaun yang ia punyai sejatinya pemberian dari sang pencipta. Jadilah ia durhaka, jadilah dia celaka. Maka apabila masih ada orang yang bakhil untuk mengeluarkan sedikit hartanya baik untuk zakat, kurban atau bentuk shodakoh lainnya percayalah bahwa ia telah menggali lubang untuk seluruh harta dan dirinya selayaknya qorun. Memang Allah tidak akan mengulang tragedi itu secara persis, tapi Allah akan mengulang dengan cara dan kadar yang berbeda. Oleh karena itu wahai seluruh manusia yang mengaku beriman, marilah sisihkan sebagian harta kita untuk kita kembalikan ke jalanNya. Semoga kita semua diberi bagian yang lebih, lebih banyak dan lebih berkah. Semoga. Amiin.

Rabu, 03 Desember 2008

Kembali sejenak

Sebuah perjalanan panjang penuh dengan liku. Menariknya, perjalanan itu kadang terjebak pada kebuntuan. pilihan sulit harus diambil. langkah apakah yang paling baik dilakukan? Perjalanan hidup seseorang panjang dan penuh liku. kadang sampai pada suatu titik dimana harus ada keputusan yang tepat. salah melangkah maka kehancuran akan didapat. Tapi tidak semua orang mampu memilih dengan tepat. adakalanya ia memilih sesuatu yang sejatinya diakui hatinya sebagai sesuatu yang salah. Hal yang sering dijadikan alasan adalah ketelanjuran, pantang kembali ke belakang, pantang menarik kembali ucapan ataupun keputusan. Fatal, itulah akibatnya.
Contoh yang gamblang adalah para tiran. Sejatinya Namrud tidak punya argumen logis apapun ketika patung berhalanya dihancurkan pemuda Ibrahim. Ia dengan lantang menolak bahwa patung yang besar melakukan penghancuran patung yang kecil karena tidak mungkin patung bisa melakukan hal itu. Ketika Ibrahim mempertanyakan kenapa patung yang tidak bisa berbuat apa-apa bahkan untuk dirinya sendiri disembah oleh Namrud sesungguhnya runtuh sudah argumen logisnya. Kalau ia mempunyai akal tentu saja dengan mudah dapat menerima argumen Ibrahim. Tapi sebuah keputusan tidak saja ditentukan oleh akal. Akal yang mestinya bisa membantu seseorang untuk mengambil keputusan yang tepat kalah oleh hawa nafsu, kesombongan. (kalau sempat besok dilanjutkan, baru ada tamu)

Sabtu, 22 November 2008

Lama gak ngeblok

Hampir sebulan tak sempat tengok blogku. pindah kantor yang gak segera disambung internetnya membuatku harus nglaju untuk ngenet. belum lagi speedy yang lelet kayak sepeda bahkan sepeda yang bannya gembos.
Kemampuan untuk mengukur/menakar adalah penting. kadang kita tak bisa menakar kadar kita masing-masing. bukan tak mau punya obsesi, tapi setiap obsesi mesti ditakar pada saatnya. artinya ada step-step yang semestinya dilewati. Kemampuan menakar juga penting saatn kita menentukan untuk membuat lompatan.
Melakukan sesuatu secara bertahap adalah keniscayaan. Allahmembagi hari menjadi tujuh sebagai gambaran tahapan. Allah menurunkan al qur'an secara bertahap, Bumi dan semesta alam juga terjadi secara bertahap. Kun fayakun juga bertahap. kun fayakun adalah suatu proses dimana tidak ada satupun kekuatan yang mampu menghentikannya. Sekalipun demikian pada saat tertentu Allah memberikan contoh lompatan yang luar biasa. Terbelahnya laut merah adalah kejadian luar biasa yang tiba-tiba (menurut ukuran ilmu alam). bisa kita fahami bahwa secara umum segala sesuatu yang di bumi ini terjadi secara bertahap. Hanya ada pengecualian yang sangat jarang terjadi dan dibutuhkan pada saat-saat krusial. Kesimpulannya kebertahapan adalah keniscayaan, sesuai dengan sunnah kauniyah dan qouliyah. fahimtum. Semoga.

Kamis, 30 Oktober 2008

Poligami

Syekh Puji membuat kegemparan. Milyarder yang konon memang nyentrik ini menghebohkan jagad perkawinan di indonesia. Usianya yang empat puluhan menikah dengan gadis kecil usia 12 tahun (seusia SMP kelas 1). Paling tidak ada 3 pertanyaan yang menggumpal di dada.
Pertama, tentang poligami. Poligami menjadi kontroversi yang tak henti terutama di tanah air kita ini. Banyak alasan untuk menolak poligami di antaranya bahwa laki-laki Indonesia secara fisik dan mental tidak terlalu membutuhkan poligami. Alasan lain adalah karena praktek poligami pada masyarakat sering diartikan dengan penindasan. Banyak laki-laki yang poligami kemudian mengabaikan hak-hak istri pertama. Mbok enom biasanya lebih disayang, jatahnya lebih banyak, gilirannnya lebih lama dll. Tentu ini bertentangan dengan prinsip Islam yaitu keadilan.
Kedua, pernikahan di bawah umur. Pantaskah anak usia 12 tahun dinikahi?
Jawabannya menjadi sangat relatif. Islam membuat garis batas kedewasaan bukan berdasarkan usia tapi berdasarkan syarat cukup. Ketika seorang wanita telah mengalami haid, maka ia telah dewasa. Artinya semua beban dan tanggung jawab telah penuh berada di pundaknya. Termasuk dalam hal ini pernikahan. Mungkin kuiltur masyarakat kita belum menganggap bahwa (bersambung)

Rabu, 29 Oktober 2008

PNS dulu, kini dan esok

Ayahku PNS, Guru SD di desa. pengabdiannya pada masyarakat membuatnya disegani dan dihormati. Semua keluarganya bangga, nenekku (aku sdh tak menjumpai kakaekku) begitu bangga dengan ayahku, anak keduanya. Ayahku berjuang untuk meneruskan studinya. Saat itu pilihan hidup tak terlalu banyak. tani menjadi pilihan hampir semua orang yang sudah mulai berusia belasan tahun. tapi ayahku nekat, walaupun harus dengan memeras keringat membanting tulang beliau melanjutkan studinya. Konon namanya SGB (sekolah guru B). Lamanya 4 tahun, jangan tanya jauhnya. Yang pasti keringat bercucuran ketika sampai di sekolah adalah hal biasa. Menyeberang sungai yang kalau banjir tak bisa dilewati adalah hal biasa. Hasilnya, ayahku termasuk segelintir orang yang berhasil membuka jendela ilmu di desaku dan sekitarnya. 40 tahun mengabdi sebagai PNS guru. luar biasa. Ayahku mewariskan semangat pengorbanan dan pengabdian kepada seluruh anaknya. Sikap terbuka, menerima kelebihan dan kekurangan, kemandirian dalam bersikap sangat menonjol untuk ukuran beliau sebagai seorang yang dianggap "priyayi". Satu hal yang sangat tabu bagi anak-anaknya adalah sikap iri. Ayahku menekankan bahwa bisa jadi semua anaknya akan menerima nasib yang berbeda, jangan sampai iri apalagi dengki, jangan rebutan harta orang tua. Alhamdulillah, walaupun secara materi tidak semua anaknya sukses tapi untuk urusan kerukunan, kejujuran semua anak-anaknya mampu menunjukkkan bakti kepada ayah tercinta. Kami tidak pernah diajari untuk mengambil hak orang lain.
PNS dulu lain dengan sekarang. Kalau melihat ayahku yang digaji oleh negara tak seberapa walaupun harus mengajar di kaki sebuah gunung, hati ini menjadi bimbang. Akankah perjuangan para pendahulu yang sedemikian mengaharu biru penuh pengorbanan menjadi sia-sia oleh para abdi negara yang bekerja tanpa dedikasi? Tak tahulah, yang jelas di antara banyak pekerjaan, menjadi PNS lah yang paling enak. Gaji jelas, karir jelas, kontrol tak jelas, kadang pekerjaan pun tak jelas.
Semoga gundah ini hanya sebersit ketidaktahuan. Kuyakinkan diriku bahwa masih terlalu banyak manusia penuh dedikasi di bumi Indonesia tercinta, paling tidak untuk waktu yang akan datang ketika para da'i mulai mengepakkan sayapnya di jajaran birokrasi negeri ini.

Senin, 27 Oktober 2008

Doaku

1. Ya Allah kuatkanlah imanku sehingga aku menjadi barisan orang-orang yang bertakwa sampai akhir hayatku.
2. Ya Allah jadikanlah aku sebagai bagian dari ornag-orang yang berjuang di jalanMu sampai ajal menjemputku.
3. Ya Allah jadikan hidupku sebagai bagian dari manfaat.
4. Ya Allah jadikanlah matiku dalam keadaan menolong agamaMu
5. Ya Allah jadikanlah istri-istriku dan anak keturunanku hamba-hamba yang beriman dan berjuang di jalanmu.
6. Ya Allah jadikanlah ilmu selalu menghiasi hidupku. Mudahkanlah hambaMu ini dalam menuntut ilmu dan mudahkanlah dalam mengajarkan kepada orang lain.
7. Ya Allah berilah kami rezeki yang melimpah dan barokah.

Memburu sang pemimpi

Luar biasa,
mungkin setelah sekian lama tak terlalu tertarik membaca novel kegilaanku muncul lagi. Dulu aku suka mencuri-curi waktu untuk membaca novel picisan kakakku. kemarin ketika akan ada perpisahan dengan kepala sekolah dan pengawasku terpaksa aku mencari buku ke gramedia. Tidak ada kenangan yang pantas bagi mereka kecuali buku (mereka terlalu kaya untuk yang lain). kusempatkan ke gramedia, kubuka buku demi buku. Banyak tema kupilih, akhirnya kutemukan buku ketika cinta bertasbih. Ayat-ayat cinta sempat kunikmati sepotong-sepotong di harian republika, maka ketika muncul bukunya tak terlalu tertarik untuk mencari. Tapi ketika melihat provokasi di pendahuluan buku ketika cinta bertasbih rasanya tak ada yang lain. kupilih dua seri sekaligus. Konylnya buku yang mestinya tetap utuh samapai besok terpaksa kubuka dan kunikmati sampai jam dua belas malam. Terpaksa aku lupakan anak dan istriku walau mereka riuh di depanku. wah.
Sebagai gantinya aku mendapat kenangan buku dari pak Hasto (sudah kuduga). Judulnya tak asing : Laskar Pelangi. belum sempat aku mambaca buku yang menghebohkan itu. Tapi begitu berada dihadapnku tanpa ampun kulahap sampai habis. Provokasi masih berlanjut, karena buku itu memuat gambar dan sedikit ulasan buku kedua : Sang Pemimpi. Beli? dari mana uang? pinjem? tak ada orang bodoh meminjamkan buku. cara paling mudah dengan hunting di internet. Sempat membuncah kebahagiaan karena berhasil unduh dari berbagai situs. Tapi apa daya hanya sepotong-sepotong. inilah nasib orang yang tak punya uang untuk sekedar beli buku. Biarlah akan kutunggu sampai ada ebook yang lengkap. semoga cukup membangun inspirasi. ndrea hirata cukup mampu membangun sensasi dalam setiap episode cerita, seakan-akan ada klimaks dalam setiap bab. itu yang mengasyikkan. Akankah aku kembali menjadi penikmat buku yang rela meneteskan air mata karena pedasnya mata saking lamanya membaca buku? saya kira tidak, kepenatan lahir batin masih menghadang di depan mata. mungkin aku berada pada titik jenuh yang paling dalam sehingga membutuhkan letupan dahsyat untuk kembali berkarya dengan sebaiknya. Semoga

Rabu, 15 Oktober 2008

Anakku,
jadilah dirimu sendiri
kibarkan panjimu

Kamis, 25 September 2008

Susu Kambing : Sembuhkan Asma

Ida Rahmawati panik bukan kepalang ketika wajah buah hatinya Sekar Ayu Dyah Larasati membiru. Mata bocah 5 tahun itu terpejam. Napasnya tersengal-sengal seperti tercekik. Berkali-kali Ida menepuk-nepuk pipi anaknya, tetapi Dyah tak merespon. Ia bergegas membawa Dyah ke Rumah Sakit Usada Insani, Tangerang, Provinsi Banten. Diagnosis dokter, siswa Taman Kanak-kanak itu mengidap asma.

Bayangan 5 tahun silam melintas di benak Ida Rahmawati. Ia ingat persis, ‘pada umur 6 bulan, Dyah kerap batuk-batuk dari jam 02.00 sampai 04.00,’ ujar Ida. Dokter hanya meresepkan sirop obat batuk dan antibiotik. Beberapa bulan berselang, timbul gatal-gatal pada kulit. Ia pun kembali memeriksakan Dyah ke dokter. Hasilnya, Dyah divonis alergi susu sapi. Oleh karena itu Ida mengganti susu bubuk sapi dengan susu bubuk kedelai. Penggantian itu memang menghilangkan gatal-gatal pada kulit Dyah. Namun batuk pada malam hari tak kunjung reda.

Bahkan setahun kemudian, batuknya semakin parah. Napas tersengal-sengal seperti tercekik. Ida Rahmawati menyambangi dokter lain untuk mengetahui penyebab batuk berkepanjangan itu. Saat itulah ia tahu, Dyah mengidap asma karena alergi susu sapi. Sejak diagnosis asma itulah, Dyah yang saat itu berusia 2,5 tahun mengkonsumsi puyer antialergi 6 kali sehari. Kebiasaan itu berlangsung hingga Dyah berusia 7 tahun. Untuk memberikan pertolongan segera, Ida menyiapkan alat bantu pernapasan nebulizer dan tabung oksigen ukuran 80 cm.

Stres
Obat dan piranti itu tak juga membantu kesembuhan Dyah. Buktinya ia sering opname karena serangan asma. ‘Obat dan nebulizer sudah tidak mampu menolongnya,’ ujar sang bunda. Hampir setiap 6 bulan Dyah dirawat di rumahsakit selama 2-3 hari. Asma Dyah kambuh terutama saat udara panas. Di sekolah yang dilengkapi pendingin ruangan, asma Dyah tak pernah kambuh. Namun, begitu pulang karena udara panas napasnya terengah-engah.

Menurut dr Mohamad Soleh, asma bisa kambuh salah satunya bila dipicu stres. Stres bisa secara fisik maupun psikis. Stres fisik bisa karena panas, dingin, lelah atau karena penyakit lain. Asma Dyah kambuh saat udara panas bukan udara dingin seperti asma pada umumnya. Menurut dr Imelda Magaritha asma adalah gangguan pernapasan karena alergi. Gangguan itu berupa penyempitan saluran pernapasan yang menghambat udara keluar dari paru-paru. Asma dapat kambuh jika sistem kekebalan terpicu oleh penyebab alergi. Penyebab alergi berbeda setiap individu, misalnya alergi susu sapi, udara dingin, debu atau stres.

Ketika upaya penyembuhan secara medis tak menggembirakan, Ida mencoba pengobatan tradisional. Atas saran kerabatnya, ia memberikan berbagai obat tradisional seperti hati kelelawar, hati kura-kura, dan hati unta pada waktu yang berbeda. Dosisnya 50 gram 3 kali sehari. Sayang, kesembuhan itu belum juga muncul.

Toleransi
Pada Oktober 2005, seorang rekan menyarankan untuk mencoba susu kambing. Barharap kesembuhan pada anaknya, Ida pun menuruti saran itu. Ia memesan 10 liter dengan harga 15.000 per liter. Susu kambing dikemas 200 ml, Ida mesti memanaskannya sebelum memberikan susu itu kepada Dyah. Sekali minum Dyah menghabiskan 200 ml dengan frekuensi 3 kali sehari. Efek terlihat pada 3 bulan pertama. Batuk pada malam hari mereda dan napas tersengal tidak terdengar lagi.

Setelah 3 bulan mengkonsumsi susu kambing, asupan puyer antialergi dihentikan. Pada 3 bulan kedua susu kambing diberikan hanya 2 kali sehari. Untuk selanjutnya sampai sekarang Dyah tetap meminum susu kambing, tapi cukup sekali sehari. Setelah rutin mengkonsumsi susu kambing, setahun terakhir asma Dyah tidak pernah kambuh. Tidak ada lagi acara bolak-balik ke rumahsakit. Nebulizer yang setia memberi oksigen pun teronggok di sudut kamar.

Yang terpenting, gadis cilik berusia 9 tahun itu sudah bisa tertawa lepas saat bermain dengan teman-temannya. Tidak akan terdengar lagi larangan ibunya untuk menahan tawa dan gerakan kala asyik bermain. Bagaimana duduk perkara susu kambing mengobati asma? dr Imelda Margaritha menuturkan susu kambing meningkatkan daya tahan tubuh. Itu lantaran kandungan mineral berupa magnesium, klorida dan selenium yang bagus untuk metabolisme tubuh.

Susu kambing biasanya dikaitkan dengan asma karena alergi susu sapi. Jika seseorang alergi susu sapi, sebenarnya dia alergi dengan gula atau protein dalam susu sapi atau dikenal dengan sebutan ? A1 kasein; susu kambing, betakasein. Susu kambing hanya mengandung 4-4,1% gula laktosa sehingga masih ditolerir untuk orang yang alergi laktosa. Bandingkan dengan kadar laktosa susu sapi yang berkisar 4-7% Jadi, penderita asma sembuh atau reda setelah minum susu kambing, berarti dia alergi dengan komponen yang ada pada susu sapi atau produk dari susu sapi. Jika tidak reda, maka pemicu asma bukan karena alergi dengan komponen tadi.

Susu kambing bisa dikonsumsi dalam bentuk cair, bubuk bahkan tablet. Dalam hal kestabilan zat aktif (protein, mineral, vitamin), susu kambing tablet lebih stabil daripada bubuk dan cair. Apa pun pilihannya, susu kambing terbukti mujarab mengatasi asma seperti yang dialami Sekar Ayu Dyah Larasati. (Nesia Artdiyasa)
dikutip dari http://www.trubus-online.com/

Minggu, 21 September 2008

Rahasia Doa Yang Dikabulkan

Klik : http://www.muhammadiman.com

Menjelang Ramadhan Berakhir

Allah,
Sungguh karuniaMu tiada bertepi
Kau sisakan kesempatan bagiku
tuk melewati hari-hari yang penuh berkah
Bulan ramadhan yang agung
di bulan ini Kau tumpahkan segala karuniaMu
Kau hidangkan semua rahmatMu
Tapi,
hambaMu yang lemah ini tak kuasa
tuk mengambil semua rahmat dan berkahMu
Allah, di sisa ramadhan yang tak seberapa
ku ingin gapai hidanganMu sampai aku puas
mendapatkan rahmat dan berkahMU
Allah,
berilah kekuatan kepadaku

Jumat, 12 September 2008

Petruk Dadi Ratu

Goro-goro versi wayang kulit harusnya dimaknai sebagai simbolisasi dari perlawanan terhadap kekuasaan yang dijungkir balikkan melalui cerita. Bahkan para dalang jaman bahuela terbiasa mendemontrasikan pemberontakannya atau ide-ide pembaharuannya pada sesi goro-goro ini.

Berbicara goro-goro tak nyamleng bila tak membicarakan lakon utama dalam goro-goro itu sendiri. Ya, goro-goro atau jungkir baliknya dunia adalah saatnya bagi punakawan tampil. Beberapa tokoh jelek jejogedan dan uro-uro semaunya, cebang-ceblung ngalor ngidul omongannya tetapi pesannya jelas.

Megahnya istana Atmartha atau Hastina di dilupakan, sebagai gantinya suasana pedesaaan Karangkedempel atau Pecukpecukilan ditampilkan, ini jamannya kaum kromo. Begitu tegasnya goro-goro.

Di tanah asalnya, di lembah Sungai Gangga dan Yamuna di selatan Himalaya, konsep wayang punakawan sama sekali tidaklah dikenal. Dengan kata lain konsep rakyat jelata dalam struktur wayang India juga tidak tidak ada.

Dengarlah imbauan Manusmriti yang mengatakan, “… untuk menjalankan tugas negara, Ksatria dan Brahmana harus bersatu, dan Sudra harus menjalankan tugas yang telah digariskan. Sudra harus menekuni kewajibannya sendiri. Tak boleh berpikir mengenai urusan negara” Cerita wayang adalah cerita tentang para ksatria, para dewa dan para raja dan tak ada tempat bagi para hamba.

Konsep punakawan adalah murni hasil pemikiran kerakyatan manusia Jawa. Dia mewakili pandangan ideologis rakyat yang serong ke “kiri”, sekaligus mewakili pandangan-pandangan akar rumput yang membebaskan.

Mereka melambangkan orang kebanyakan. Karakternya mengindikasikan bermacam-macam peran, seperti penasihat para ksatria, penghibur, kritisi sosial, badut bahkan sumber kebenaran dan kebijakan.

Alkisah, di dasar samudera, seorang pertapa raksasa, Begawan Salantara atau raja Gandarwa begitu biasa dia disebut. Berputra pemuda gagah bak Casanova. Namanya Bambang Pecrukpenyukilan. Meskipun suka asbun, Bambang Pecrukpenyukilan mewarisi kesaktian ayahnya, hingga di kampungnya dia menjadi jejadug.

Merasa tak mendapat lawan setimpal di kampung, dia naik kedarat mencari lawan untuk menjajal kesaktian. Beruntunglah, ada Bambang Sukakadi, pemuda dari pertapaan Bluluktiba yang ingin menjajal ilmu kebalnya.

Pertempuran gaya pasar pagipun tak terelakkan. Keduanya saling menendang, memukul, menginjak, menyikut, mengigit dan brakotan. Alhasil rusaklah badan mereka. Tanpa operasi plastik kedua pemuda yang tadinya gagah berubah wujud menjadi dua sosok berwajah aneh dan ancur-ancuran.

Untunglah sebelum perkelahian gaya bebas berakibat fatal datang Sang Smarasanta alias Ki Semar Badranaya bersama jelmaan bayangannya, Bagong (Bawor=Banyumas, Besut=Jawa Timur, Cepot=Sunda). Atas wejangan Semar kedua pemuda itu tersentuh dan bertekad mengabdi seumur hidup pada Ki Semar.

Sejak itu Bambang Pecrukpenyukilan berubah nama menjadi Petruk dan Bambang Sukakadi berubah nama menjadi Gareng. Bersama Semar, Gareng dan Bagong, Petruk menjadi panakawan, pengiring setia para ksatria Pandawa. Dan kebetulan Petruk-lah yang ingin saya ceritakan kali ini dalam kisah paling merakyat, Petruk Dadi Ratu.

Dhok..derodhok..dhok.. dhok… Sang dalang menghajar kothaknya untuk memulai cerita.

Pertarungan baru saja di mulai, dengan mudahnya para ksatria Astina dan Amarta yang dikagumi dan diyakini memiliki kesaktian tak terbayangkan KO dalam sekali pukul. Sebuah negara kecil, Sonyawibawa, muncul tiba-tiba di pojokan Astina yang agung. Mengaku berdaulat dan menantang perang Astina. Hasilnya David mengalahkan Goliath. Dan Petruk menjadi raja dan menghadiahi gelar pada dirinya sendiri Sang Prabu Baginda Belgeduwelbeh Tongtongsot Upilkulegen Hanyokrowati Mbaudendo Panato Senggomo’ne Kenya Limo.

Bagi Petruk menjadi raja adalah amanat, dan kesaktian yang bisa mengalahkan para ksatria adalah kekuatan akar rumput yang sudah muak akan penindasan. Kekuatan nurani rakyat yang tak dapat dikalahkan oleh segala macam kesaktian andalan para ksatria. Dan Petruk adalah semangatnya.

Petruk menjadi raja bukan karena dia marah dan mendendam pada para majikannya. Dan dia juga tidak memiliki ajian mumpung, mumpung berkesempatan memegang jimat Kalimasada. Petruk bukan itu. Dia malah menawarkan kesempatan para ksatria untuk sejenak ijolan nggon (bertukar tempat) dengan para hamba.

Petruk juga mengajarkan kepada para satria ilmu yang seringkali dilupakan para ksatria. Ilmu mendengarkan, ilmu hidup prihatin, ilmu ditimpa kesewenangan dan ketidakadilan, ilmu mengaduh tanpa suara, ilmu menghamba tetapi berjiwa merdeka.

Karena jika ksatria mempunyai hati hamba, apalah susahnya hidup sederhana? Jika ksatria mempunyai telinga, apa susahnya diam mendengar? Jika ksatria bermata, apa susahnya melihat realita? Jika ksatria berotak, apa susahnya mikir rakyatnya?

Jungkir-baliknya tatanan istana yang mulia bukannya tanpa sengaja oleh Petruk. Tetapi karena memang bahasa Petruk adalah bahasa kampung, udik, ndeso dan katrok. Petruk justru mengingatkan, tatanan hanyalah tatanan, hukum hanyalah hukum dan nilai hanyalah nilai. Manusialah yang harusnya menjadi tujuan termulia.

Ketika ksatria menjadi penghamba lekuk-liku birokrasi istana, guna apa mereka bagi kawula? Bukankah raja ada karena ada kawula, dan raja hanya dititipi amanah semata dan bertahta demi rakyatnya?

Bukankah tatanan, hukum, nilai atau apapun dibuat demi kesejahteraan rakyatnya? Dan Petruk ingin meningatkan hal itu.

Petruk bukannya kurang ajar menembus hierarki, tetapi itu adalah keniscayaan. Ketika semua saluran mampet. Dan kondisi menciptakan penjegalan supaya yang dibawah tak bisa meluncur ke atas, ketika kelompok atas enggan turun ke bawah, saat itulah Petruk sang pembebas muncul. Dia menunjukan bahwa semua orang berhak berkuasa, semua orang layak menghamba. Hanya akhlak dan kemampuanlah penentunya.

Dan Petruk tetaplah Petruk kejayaan tiadaklah menghapus kesederhanaanya. Meskipun menjadi raja sakti madraguna kaya raya, tetap dipilihnya permaisuri buruk rupa. Pas benar dengan dirinya. Tidak mengumbar keinginan meskipun bisa.

Lihatlah ketika pelantikan dirinya, yang ingin ditontonya bukan dansa-dansi atau opera yang ndakik-ndakik. Dia hanya ingin nonton tayub dengan ledek yang bisa goyang ngebor mirip Inul. Hobinya pun bukan langsung ganti dengan golf atau clubbing, tetap gobag slodor.

Dan ketika waktunya tiba, Petruk runtuh ketika harus berhadapan dengan Bagong saudaranya sesamanya. Bukan dengan ilmu dan aji jaya kawijayan bak ksatria. Namun dengan berkelahi gaya bebas khas pinggiran, mbrakot, nyokot, nyuwek dan njabak. Ya gelut gaya pasar pagi, itulah bahasa Petruk, bahasa Bagong, bahasa rakyat.


Tulisan ini mewakili kata hati rakyat yang semakin terpinggirkan dan merindukan kepemimpinan yang lebih baik bagi bangsa ini.

diambil dari sebuah blog yang sayang belum ketemu lagi alamatnya. Mohon maaf bagi penulisnya, semoga kebaikan yang didapat.

Rabu, 10 September 2008

Belajar dari Majapahit

Siapa orang yang tahu dengan majapahit. Anak SD Klas V pun pasti tahu sejarah kebesaran majapahit. Hayam Wuruk dan Gajah Mada adalah duet maut bagi lawan-lawan politiknya. Sejarah memang memaparkan secara sempurna masa keemasan Majapahit, tapi betulkah kebesaran majapahit dibangun tanpa cacat? Dengan sistem kerajaan, rakyat bukanlah apa-apa. Rakyat sangat tergantung dari kebaikan dan kecerdasan rajanya dalam memimpin. Jadi dalam bahasa kaum revivalis, zaman keemasan kerajaanpun pasti mengandung penjajahan. paling tidak penjajahan atas hak untuk berpendapat. Hanya saja karena ditutupi oleh keberhasilan atau hanya minoritas yang merasa punya hak maka hal itu tidak muncul di permukaan. Mirip dengan masa Suharto, semua orang diam karena Suharto memberi 'kecukupan hidup'. Rakyat tidak merasa dijajah, rakyat tidak merasa ditekan. Hanya orang-orang gila saja yang merasa ditekan dan diperkosa hak-haknya. Ternyata kebebasan berekspresi menjadi barang mahal bagi rakyat kecil yang tidak punya akses kekuasaan. Barulah setelah pemimpin yang sangat berkuasa lengser, semua orang bicara termasuk orang-orang yang dulu ikut menindas. Sama saja saya kira, Majapahit ataupun Indonesia masa Suharto, ketertindasan itu ada tapi tidak wujud. Saking lamanya tertindas, masyarakat indonesia menginginkan adanya RATU ADIL. Sebuah simbol keputusasaan. Pertanyaan besar adalah mengapa masyarakat tidak berusaha membangun sistem sehingga raja/presiden begitu berkuasa dan tidak pernah salah? Saya pun tidak tahu jawabnya. Ada dua karakter umum yang sangat kontradiktif, di satu sisi setiap penguasa selalu berusaha untuk memperkuat kekuasaannya sementara masyarakat selalu berusaha untuk mengamankan posisinya andaipun harus mengorbankan harga dirinya. kalau demikian halnya maka permohonan dari rakyat untuk datangnya RATU ADIL adalah wajar, sementara rindu untuk mendapatkan SISTEM yang lebih adil menjadi gagasan orang-orang gila.

Bis jurusan Purwodadi
Untuk lebih mudahnya perhatikan bis jurusan Purwodadi. Raja jalanan karena badannya besar. Siapapun yang berani melawan : sikat, selesai. pemakai jalan yang lain tentu saja memaki-maki. tapi kepada siapa, toh sopir bis tak terlalu penting untuk mendengar cacian tersebut atau bahkan sama sekali tidak mendengar. Bukankah lebih baik mendengarkan musik dangdut yang disetel kenceng? Apa daya, mau lawan jadi korban, mau minta tolong polisi (yang mestinya punya otoritas) eh,... malah disalahkan, mas yo nek pingin slamet minggir wae. Gak tahulah berapa banyak pak polisi diberi angpau oleh sopir bis, tapi saya kira tak seberapa.
Bila anda pemakai jalan, sangat tidak disarankan untuk melawan, tabrak, mati, dikubur, dimakan cacing. Matinya tidak terlalu terhormat karena "ditabrak bis jurusan purwodadi". Sama-sama ketabrak kan lebih terhormat kalau tertabrak mobil Toyota Alpard atau BMW seri 7, atau Mercy E-class. Yo po ra? Embuh lah. Nek aku sing penting mlebu surgo.

Agak sedikit melenceng
Kalau njenengan semua ditanya tentang pengelolaan lembaga njenengan, a la Majapahit atau a la Demokrasi pasti njenengan punya jawaban yang berbeda-beda.
a. Pilih kayak Majapahit asal rajanya bijaksana seperti Hayam Wuruk
b. Pilih Demokrasi asal semua bisa berdemokrasi secara dewasa
c. Tidak pilih keduanya karena dua-duanya tidak ada dalilnya dalam Al Qur'an dan As Sunnah.
d. Karepmu lah.
Terserahlah, yang penting kita semua menyadari dan siap untuk menghadapi segala kesulitan. Kata orang bijak, sikap yang terbaik adalah seperti kapas, ditekan seperti apapun dia akan mampu kembali mengembang. Lha nek di bong piye? Yo Wis, kapan-kapan dipikir maneh.

Selasa, 02 September 2008

Selamat Menunaikan Ibadah Puasa

Puasa kali ini semoga lebih baik dari yang kemarin-kemarin. Amin.

Kamis, 28 Agustus 2008

Menakar Kepentingan

menjadi pertanyaan yang penting unutk direnungkan. Kini kalimat :"Kita tidak punya kepentingan apapun" semakin sering diucapkan khalayak ramai, dengan berbagai keperluan tentunya. Keperluan yang paling sering adalah untuk berapologi. Nah ini yang sering jadi masalah, soalnya orang semakin bingung dengan apologi jenis ini. Sulit untuk menemukan sesungguhnya siapa yang berkepentingan. Kalau toh jujur, kepentingan apa yang diinginkan. Nah selamat berteka-teki, yang bisa menjawab dapat hadiah : Kepentingannya terakomodasi.

Selasa, 26 Agustus 2008

Bersiap Menyambut Bulan Ramadhan

Sebentar lagi ramadhan datang. Siapkan diri kita untuk menyongsong bulan penuh rahmat. Perbanyak ibadah agar mampu melenturkan hati yang mungkin terlampau keras karena sibuk dengan urusan duniawi. Ya Allah, mampukanlah diriku untuk semakin mengabdi kepadaMu dengan tulus ikhlas. Ya Allah, bimbinglah hambamu yang lemah ini untuk mampu mengarungi bahtera kehidupan di bawah ketentuanMu. Amin ya Rabbal 'alamin.

Jumat, 22 Agustus 2008

Harus Terbentur Lagi

Entah, aku harus berbuat apa. barangkali, jalan buntu ini agak sulit untuk ditembus. Upaya untuk membangun komunikasi seolah kandas sebelum dimulai. embuh lah.

Kamis, 21 Agustus 2008

Aku semakin tidak mengerti

Pagi ini aku harus berjibaku dengan anakku. Aufa mogok sekolah lagi. Hampir satu minggu Aufa mengucapkan kata yang sama "aku tidak mau sekolah". Kemarin-kemarin aku dan istriku masih berhasil membujuknya, tapi pagi ini seolah tak berdaya. segala bujuk rayu sampai iming-iming tak berhasil membuatnya tergerak untuk berangkat sekolah. Mungkin ia berhasil mengekspresikan perasaan abinya yang sedang gundah. Anakku ini memang halus perasaannya, kadang aku tak tega ketika harus memarahinya, tapi toh ia pula yang paling sering kena marah, walaupun pula sebagai kompensasi aku kadang berlebih memberinya perlakuan. Aku jadi teringat nmasa kecilku, aku juga mogok sekolah tanpa alasan yang jelas. Nah, akhirnya aku pun mengalah kubiarkan dia bermainj dengan sepeda bututnya. aku hanya berpesan, susullah umi, kamu bisa bermain sama adik disana, tapi jangan ganggu umi ya. Aufa menganggukkan kepala. Entah apa yang ada dalam fikirannya. yang jelas aku merasa tenang meninggalkan dia dalam keadaan seperti itu. aku yakin ia akan baik-baik saja. Sebetulnya akupun malas berangkat ke sekolah. rasanya aku ingin saja berganti aktifitas. Bayangan anak-anak tanpa dosa serta guru-guru yang tulus membuatku harus berfikir ribuan kali kalau aku harus dengan tiba-tiba meninggalkan sekolah yang kurintis dari nol ini. pagi, ketika kucoba untuk berfikir tenang. Toh keributan yang terjadi tak mampu untuk membuatku diam. Sepagi ini ketika aku mencoba menyelesaikan masalah dari sisi yang lain tergopoh gopoh ada yang laporan. Situasi tambah gawat. yaa Allah semoga Engkau memberikan kemudahan untuk menyelesaikan masalah ini. dan akupun tidak terlalu berminat meneruskan kalimat-kalimat ini.

Selasa, 19 Agustus 2008

Menakar Nasionalisme Kita

Dulu, konon kata para sesepuh yang namanya pekik merdeka dibahanakan dengan bahasa hati. yang ada dalam relung hati yang paling dalam adalah kemerdekaan yang hakiki yang akan mengantar bangsa indonesia ini menjadi bebas menentukan nasibnya sendiri dan pada akhirnya negeri gemah ripah loh jinawi toto titi tentrem kerto raharjo betul-betul bisa diwujudkan. tapi lihatlah setelah 63 tahun Soekarno-Hatta membacakan teks proklamasi, cita-cita itu hanya tinggal angan-angan. karena negeri yang apa-apa ada ini ternyata tidak ada apa-apanya dan tidak bisa berbuat apa-apa. Lahirlah kini pekik merdeka yang tanpa makna, diucapkan kalau bulan agustus, dibimbui dengan lomba makan krupuk (yang tidak pernah mencerdaskan) atau dangdutan (yang berakhir tawuran). kini pekik merdeka diucapkan para maling karena bebas dari tahanan setelah nyogok para hakim dan jaksa. tentu saja maling yang jumlah malingannya masih cucuk dibanding sogokannya. Kini pekik merdeka diucapkan oleh para pejabat yang hanya mau kerja kalau diberi gaji yang cukup (lha kapan cukupe?). ada yang lebih aneh lagi, orang berlomba-lomba untuk mengecat pagarnya dengan warna merah putih, padahal belum terbukti baktinya pada negeri ini, atau pakaian yang dikenakan setiap harinya diberi bendera kecil atau bros burung garuda ==> biar terkesan nasionalis gitu lho. maka muncullah kini nasionalisme simbolik (istilah yang kubuat sendiri, gak tahu apakah ada orang yang memakai istilah ini, aku tidak peduli dan tidak merasa perlu untuk mengklaim atau bahkan mematenkan). Nasionalisme yang diwujudkan dengan simbol, tidak terlalu dirisaukan apakah simbol itu dipakai para maling, copet, pemabuk, garong, preman, penjudi, koruptor atau jenis kejahatan lainnya. para pemakai simbol tersebut seolah-olah nasionalis sejati. Itulah Indonesia. Semoga ratapan ibu pertiwi bisa didengar oleh manusia yang punya hati nurani. Amin.
Air yang Sedang Keruh

Kalau mengingat sejarah majapahit setelah prabu hayam wuruk wafat hampir sama dengan suasana kerjaku akhir-akhir ini. Banyak yang harus disedihkan. kadang aku merasa bahwa kegagalan terbesar yang kualami adalah suksesi yang tidak mulus. apa sebab? sebagai seorang yang suka berkelana sesungguhnya aku tidak terlalu suka untuk berkemah lama. ketika telah merasa cukup, badan segar, fikiran terang kembali, seorang pengembara akan segera pergi meninggalkann kemahnya. sialnya pohon-pohon serta hewan-hewan dan juga batu serta tanah di sekitar kemah terlanjur menganggap sang pengembara sebagai warga tetap. jadilah buah simalakama, ditinggal anak mati, dimakan ibu mati. weleh weleh weleh. Memang ada masalah yang lebih mendasar. aku terlalu bodoh untuk melayani semua orang. apalagi kalau yang dilayani sangat pinter. katakanlah aku hanya seorang cantrik sementara kyainya seperti Gus Dur, lha opo tumon. Coba sekarang tanyakan kepada siapa saja, siapa yang mampu memahami pemikiran orang sehebat Gus Dur. sedang aku hanya lulusan SMA, tidak pernah di pesantren kecuali pesantren kilat, sekolah ora tau bener. jadilah aku cantrik sejati yang bisanya cuma plonga bin plongo. tapi biarlah, kadang memang harus begitu. biarlah aku menjadi aku. aku tidak perlu menjadi gus dur, sebab ada satu gus dur saja negara ini sudah repot apalagi ditambah aku yang lebih tidak nggenah ini. wah wah wah. Duh Gusti kulo nyuwun sabar lan pitulungan Paduko supados geger genjik meniko enggal uwal sakingbumi meniko. amin
Hore, aku berhasil buat blog baru. aku memang baru agak gimana, sampai-sampai identitas diri untuk blog sampai lupa. tapi setelah ini pasti takkan lupa lagi. Insya Allah. alamanda73.blogspot.com
Eh, ternyata keliru juga. aku pakai email alamanda73@gmail.com dengan password nama anak pertamaku_ku
Blog ini untuk menggantikan blog ku yang lama, soalnya aku gak bisa sign in. memang aku sangat pelupa. kalau boleh sebetulnya aku tidak ingin pakai password. aku juga belum menyimpan pasword secara khusus. nah daripada aku gak bisa nulis-nulis lebih baik aku bikin blog baru. aku mau pake lamat emai : ipunksolo@yahoo.com dengan password aufaku. biar saja ini diketahui orang, toh bukan rahasia amat. kalau ada yang jahil hapus saja, selesai.